Senin, 03 Juni 2013

metode penelitian sosial



Tugas Metode Penelitian Sosial
1.      Jenis penelitian : deskriptif
Judul penelitian : “PEMAKAIAN GAYA BAHASA DALAM IKLAN DI MEDIA MASSA (STUDI DESKRIPTIF MENGENAI PEMAKAIAN GAYA BAHASA DALAM IKLAN DI MEDIA CETAK)”.
Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana penggunaan gaya bahasa dalam iklan di media massa cetak.
2.     Latar Belakang  Masalah
Media massa merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia, pasalnya media massa adalah alat komunikasi yang dapat menjembatani peredaran informasi di kalangan masyarakat. Berbagai bidang seperti ekonomi, politik, dan pendidikan dapat dikomunikasikan melalui media massa. Media massa terdiri dari media massa cetak (koran, majalah, bulettin) dan elektronik (televisi, radio, internet). Seperti halnya yang tertuang dalam UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers, yakni pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik yang meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.
Media massa yang berpengaruh terhadap kehidupan manusia selalu berkembang. Salah satu media massa yang tengah berkembang pesat di Indonesia adalah media massa cetak. Hampir disetiap kota atau daerah sekarang ini memiliki penerbitan media massa cetak sebagai wahana komunikasi antarmasyarakat, pemerintah, dan pengusaha. Karena media massa cetak sebagai media tertulis untuk menyampaikan ide, gagasan, dan apresiasi masyarakat, (I Dewa Putu W. dan M. Rohmadi, 2006:203)
Perkembangan yang pesat ini tentu tidak terlepas dari faktor dana yang besar. Salah satu faktor yang menjadi sumber dana bagi perusahaan penerbitan media massa cetak adalah iklan. Tiada hari tanpa iklan, seperti inilah kira-kira gambarannya, karena terlalu banyak iklan yang bermunculan, salah satunya di media massa cetak.
Iklan merupakan suatu hal yang berusaha memengaruhi masyarakat agar masyarakat tertarik dan memberikan respon sesuai dengan harapan terhadap hal yang diiklankan. Saperti yang diungkapkan oleh  Rhenald Kasali (1992) bahwa iklan adalah bagian dari bauran promosi dan bauran promosi adalah bagian dari  bauran pemasaran. Jadi secara sederhana  iklan didefinisikan sebagai pesan yang menawarkan  suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat  lewat suatu media, kemudian menurut Frank Jefkins (1997), yang menyatakan bahwa iklan adalah pesan yang diarahkan untuk membujuk orang untuk membeli.
Jumlah iklan di media massa sangat banyak, tak terkecuali di media massa cetak, seprti di koran, dan majalah. Iklan – iklan tersebut dibuat semenarik mungkin agar dapat menarik minat dan respon dari masyarakat. Salah satu hal yang memengaruhi keberhasilan iklan dalam menarik perhatian dan minat masyarakat terhadap produk yang diiklankan adalah penggunaan gaya bahasa. Kepiawaian penyaji iklan dalam menggunakan gaya bahasa akan menentukan tingkat keberhasilan iklan. gaya bahasa dituntut wajib menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, kejelasan, dan kehematan (Wahyu Wibowo, 2003).
Penggunaan gaya bahasa antara iklan yang satu dengan yang lainnya selalu memiliki perbedaan, misalnya dalam hal diksi atau pemilihan kata. Gaya bahasa dalam iklan ditujukan untuk memengaruhi pola pikir masyarakat agar tertarik untuk kemudian mendukung bahkan membeli produk yang diiklankan.
Penelitian penggunaan gaya bahasa dalam iklan di media massa juga telah dilakukan oleh Kusumawati (Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 2010), dengan judul “ANALISIS PEMAKAIAN GAYA BAHASA PADA IKLAN PRODUK KECANTIKAN KULIT WAJAH DI TELEVISIS”. Perbedaan yang mendasar dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti kali ini adalah jenis iklan dan media massa. Peneliti hendak meneliti iklan perbankan di media massa cetak yaitu koran Kompas. Mengapa perbankan?, karena hampir di setiap media massa cetak terutama koran iklan perbankan selalu ada, peneliti hendak menganalisis gaya-gaya bahasa yang termuat di iklan tersebut, kemudian mengapa koran Kompas?, karena koran Kompas telah dua kali berturut-turut meraih peringkat pertama untuk “Penghargaan Penggunaan Bahasa Indonesia di Media Massa Cetak Tingkat Nasional”, yaitu tahun 2011 dan 2012 (dikutip dari kompas.com Selasa, 30-10-2012). Peneliti hendak meneliti pemanfaatan atas kekayaan Bahasa Indonesia dalam pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu.

3.     Rumusan Masalah
a.       Bagaimana pemakaian gaya bahasa dalam iklan di media massa cetak?
b.      Bagaimana penggunaan aspek-aspek kebahasaan dalam iklan di media massa cetak?
4.     Tujuan Penelitian
a.       Mengetahui pemakaian gaya bahasa dalam iklan di media massa cetak
b.      Mengetahui penggunaan aspek-aspek kebahasaan dalam iklan di media massa cetak



5.     Kerangka Teori
A.      Gaya Bahasa
1)     Pengertian gaya bahasa
Harimurti Kridalaksana dalam Kamus Linguistik (1982) memaparkan bahwa gaya bahasa memiliki tiga pengertian, yaitu :
a.       pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis;
b.      pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu;
c.       keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra.
Sementara itu Leech dan Short (1981) mengemukakan bahwa gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa oleh orang tertentu, dalam konteks tertentu, dan untuk tujuan tertentu. Pendapat ahli sastra Panuti Sudjiman (1990: 33) menyatakan bahwa yang disebut gaya bahasa adalah cara menyampaikan pikiran dan perasaan dengan kata-kata dalam bentuk tulisan maupun lisan. (dikutip dari Kusumawati, 2010:8)
Dari pendapat para ahli di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa gaya bahasa adalah cara pengungkapan pikiran melalui bahasa yang khas untuk memperoleh efek tertentu dan mencapai tujuan tertentu. Kaitannya dengan iklan adalah bahwa gaya bahasa yang termuat dalam iklan dibuat untuk menyampaikan maksud tertentu dari penyaji iklan dan bertujuan untuk memperoleh respon yang diharapkan dari masyarakat.
2)     Jenis-jenis gaya bahasa
a.       Gaya bahasa perbandingan
Rachmat Djoko Pradopo (1997: 62) berpendapat bahwa gaya bahasa perbandingan ialah gaya bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata perbandingan seperti: bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, seumpama, laksana, sepantun, penak, dan kata-kata perbandingan yang lain. Gaya bahasa perbandingan meliputi: hiperbola, metonimia, personifikasi, perumpamaan, metafora, sinekdok, alusi, asosiasi, eufemisme, pars pro toto, epitet, eponim, dan hipalase.
Gaya bahasa ini meliputi :
                                                                                I.            Hiperbola
Gorys Keraf (2002: 141) menyatakan bahwa hiperbola adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal. sedangkan Irwan Abu Bakar (2003: 1) secara lebih lengkap memberikan definisi hiperbola sebagai gaya bahasa yang dilambangkan kata-kata yang membawa pernyataan yang berlebih-lebihan dengan tujuan untuk menegaskan atau menekankan pandangan, perasaan, dan pikiran (Kusumawati, 2010:12).
Dari kedua pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa hiperbola adalah suatu gaya bahasa yang menyatakan sesuatu dengan cara melebih-lebihkan sesuatu tersebut, dengan tujuan penekanan perasaan dan pikiran yang dialami.  Contohnya petir menggelegar membelah angkasa. (Kusumawati, 2010:12)
                                                                              II.            Metonimia
Yandianto (2004: 143) memberikan definisi mengenai metonimia sebagai gaya bahasa yang mempergunakan nama benda tersebut sebagai pengganti menyebutkan jenis bendanya. Gorys Keraf (2002: 141) menyatakan bahwa metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat (Kusumawati, 2010:12).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa metonimia adalah gaya bahasa yang menggunakan atribut, merek, atau ciri khas dari suatu hal untuk mengungkapkannya Contohnya ayah pergi ke kantor naik inova.  (maksudnya naik mobil inova).
                                                                           III.            Personifikasi
Gorys Keraf (2002: 142) personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Sementara itu Rachmat Djoko Pradopo (1997: 75) berpendapat bahwa personifikasi adalah kiasan yang mempersamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dibuat dapat berbuat, berpikir, dan sebagainya seperti manusia (Kusumawati, 2010:13).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa personifikasi adalah gaya bahasa yang memanusiakan benda-benda mati. Contohnya rumput bergoyang – goyang mengikuti alunan angin.
                                                                           IV.            Metafora
Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 24) memberikan pengertian tentang metafora sebagai gaya bahasa perbandingan atau analogi dengan membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dengan cara singkat dan padat. Metafora adalah gaya bahasa yang memperbandingkan benda dengan benda lain yang mempunyai sifat sama (dalam Learning Central, 2004: 1). (Kusumawati, 2010:13).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa metafora adalah gaya bahasa yang mengungkapkan suatu hal dengan cara membandingkan hal tersebut dengan hal lain yang sifatnya sama.  Contohnya dewi malam tengah menampakan diri malam ini (dewi malam adalah bulan).
                                                                              V.            Sinekdok
Gorys Keraf (2002: 142) berpendapat bahwa sinekdok adalah semacam bahasa figuratif yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian. Sedangkan Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 24) menyatakan sinekdok adalah semacam bahasa figuratif yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan sebagian (Kusumawati, 2010:14).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa sinekdok adalah gaya bahasa yang menggunakan keseluruhan untuk mengungkapkan sebagian, atau menggunakan sebagian untuk mengungkapkan keseluruhan.  Contohnya setiap kepala dikenai biaya Rp 20.000,00, dan kesebelasan Indonesia menjuarai permainan sepak bola tingkat internasional.
                                                                           VI.            Alusi
Gorys Keraf (2002: 142) menyatakan bahwa alusi adalah semacam acuan yang berusaha mensugestikan kesamaan antara orang, tempat, atau peristiwa. Sementara itu Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 24) berpendapat bahwa alusi adalah gaya bahasa yang merujuk secara tidak langsung pada suatu tokoh atau peristiwa yang sudah diketahui (Kusumawati, 2010:14).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa alusi adalah gaya bahasa yang mengungkapkan suatu hal dengan cara membandingkan hal tersebut dengan sutu tokoh atau peristiwa yang hampir sama.  Contohnya Kartini kecil turut memperjuangkan persamaan haknya.
                                                                         VII.            Eufemisme
Gorys Keraf (2002: 132) menyatakan bahwa eufemismus yakni semacam acuan berupa ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung perasaan orang, atau ungkapan-ungkapan yang halus untuk menggantikan acuan-acuan yang mungkin dirasakan menghina, menyinggung perasaan, atau mensugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan. Sedangkan Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 25) berpendapat bahwa eufemismus adalah gaya bahasa perbandingan yang bersifat menggantikan satu pengertian dengan kata lain yang hampir sama untuk menghaluskan maksud (Kusumawati, 2010:15).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa eufemisme adalah gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu hal dengan menggunakan kata-kata yang dirasa lebih halus atau sopan. Contonya setalah dua jam menunggu, dia sempat izin ke kamar kecil (toilet).
                                                                      VIII.            Epitet
Gorys Keraf (2002: 141) menyatakan bahwa epitet adalah semacam acuan yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khusus dari seseorang atau sesuatu hal. Sementara itu Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 25) berpendapat bahwa epitet adalah gaya bahasa berwujud seseorang atau sesuatu benda tertentu sehingga namanya dipakai untuk menyatakan sifat itu (Kusumawati, 2010:16).
Dari kedua pendapat ini dpat disimpulkan bahwa gaya bahasa epitet adalah gaya bahasa acuan yang menjadi ciri dari seseorang atau dari suatu hal. Contonya lonceng pagi untuk ayam jantan.
                                                                            IX.            Eponim
Gorys Keraf (2002: 141) menyatakan bahwa eponim adalah suatu gaya bahasa di mana seseorang yang namanya begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu. Sejalan dengan pendapat ini Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 25) berpendapat bahwa eponim adalah gaya bahasa yang dipergunakan seseorang untuk menyebutkan sesuatu hal atau nama dengan menghubungkannya dengan sesuatu berdasarkan sifatnya (Kusumawati, 2010:17).
Dari kedua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa eponim adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu dengan menyamakan sifat hal tersebut dengan hal lain. Contohnya Hercules dipakai untuk menyatakan kekuatan.
                                                                              X.            Hipalase
Gorys Keraf (2002: 142) berpendapat bahwa hipalase adalah semacam gaya bahasa di mana sebuah kata tertentu dipergunakan untuk menerangkan sebuah kata yang seharusnya dikenakan pada sebuah kata yang lain. Sementara itu Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 25) hipalase adalah gaya bahasa yang menggunakan kata tertentu untuk menerangkan sesuatu, namun kata tersebut tidak tepat bagi kata yang diterangkannya (Kusumawati, 2010:17). Dari kedua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa hipalase adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu tetapi pernyataan itu tidak digunakan secara tepat pada objek yang diungkapkan.  Contohnya ia berbaring di atas bantal yang gelisah (yang gelisah manusianya bukan bantalnya).
                                                                            XI.            Simile
Gorys Keraf (2002: 139) mendefinisikan simile adalah perbandingan yang bersifat secara langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Kata-kata yang biasanya digunakan antara lain: seperti, bagaikan, laksana, sama, dan sebagainya. Sementara itu, Irwan Abu Bakar (2003: 1) menyatakan simile adalah perbandingan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain, yang dibuat secara langsung melalui penggunaan kata-kata tertentu, misalnya: bak, bagaikan, laksana, ibarat, seperti, umpama, serupa, dan semacamnya (Kusumawati, 2010:17). Dari kedua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa simile adalah gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu dengan cara menyamakannya dengan sesuatu yang lain. Contohnya rumahnya megah laksana istana raja.
                                                                         XII.            Asosiasi
Yandianto (2004: 142) berpendapat asosiasi adalah memperbandingkan suatu benda terhadap benda lain sehingga membawa asosiasi benda yang diperbandingkan, dengan demikian sifat benda pertama lebih jelas. Sementara itu, Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 24) berpendapat bahwa asosiasi adalah gaya bahasa perbandingan yang bersifat memperbandingkan sesuatu dengan keadaan lain yang sesuai dengan keadaan yang dilukiskan (Kusumawati, 2010:15).
Dari kedua pendapat ini disimpulkan bahwa gaya bahasa asosiasi adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu hal dengan menyamakannya dengan sifat benda lain sehingga sifat benda pertama lebih jelas. Contohnya Rambutnya bagai mayang terurai.
b.      Gaya bahasa pertentangan
Gaya bahasa pertentangan adalah gaya bahasa yang maknanya bertentangan dengan kata-kata yang ada. Menurut Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 26) gaya bahasa pertentangan meliputi: paradoks, antitesis, litotes, oksimoron, dan histeron prosteron.
I.                    Paradoks
Gorys Keraf (2002: 144) menyatakan bahwa paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Sementara itu, Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 26) menyatakan bahwa paradoks adalah gaya bahasa yang bertentangan dalam satu kalimat (Kusumawati, 2010:23). Dari kedua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa paradoks adalah gaya bahasa yang menyatakan dua hal yang sama sekali bertentangan dalam satu kalimat. Contohnya musuh sering merupakan kawan yang akrab.
II.                  Antitesis
Yandianto (2004: 147) menyatakan antitesis adalah gaya bahasa yang mempergunakan paduan kata yang berlawanan makna. Sementara itu, Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 26) berpendapat bahwa antitesis adalah gaya bahasa yang menggunakan paduan kata yang artinya bertentangan (Kusumawati, 2010:23).
 Dari kedua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa antitesis adalah gaya bahasa yang memadukan kata-kata yang berlawanan makna menjadi satu kesatuan. Contohnya suka duka kita tetap bersama.
III.               Litotes
Gorys Keraf (2002: 132) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan litotes yakni semacam gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Secara lebih lengkap Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 26) berpendapat bahwa litotes adalah gaya bahasa yang ditujukan untuk mengurangi atau mengecilkan kenyataan yang sebenarnya, tujuannya untuk merendahkan diri (Kusumawati, 2010:24).
Dari kedua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa litotes adalah gaya bahasa yang mengungkapkan suatu hal dengan cara merendah. Contohnya mari silakan masuk ke gubuk saya (padahal rumahnya mewah).
IV.               Oksimoron
Gorys Keraf (2002: 136) menyatakan oksimoron adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama, dan sebab itu sifatnya lebih padat dan tajam dari paradoks. Masih dalam pengertian yang sama Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 26) menjelaskan bahwa oksimoron adalah gaya bahasa yang antara bagian-bagiannya menyatakan sesuatu yang bertentangan (Kusumawati, 2010:24).
Dari kedua pendapt ini dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa oksimoron adalah gaya bahasa yang menyatakan dua hal atau lebih yang bertentangan dalam satu kalimat, akan tetapi oksimoron lebih tajam dibandingkan paradoks.  Contohnya keramah-tamahan yang bengis.
V.                  Histeron prosteron
Gorys Keraf (2002: 136) berpendapat bahwa histeron prosteron yakni semacam gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari sesuatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar, misalnya menempatkan sesuatu yang terjadi kemudian pada awal peristiwa. Sementara itu Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 26) berpendapat bahwa histeron prosteron adalah gaya bahasa yang berwujud kebalikan dari sesuatu yang logis (Kusumawati, 2010:25). Dari kedua pernyataan ini dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa histeron prosteron adalah gaya bahasa yang menyatakan suatu hal dengan cara menempatkan sesuatu yang tidak logis. Contohnya jendela ini telah memberikan kamar untukmu sebagai tempat berteduh.
c.       Gaya bahasa perulangan
Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 24) berpendapat bahwa gaya bahasa perulangan adalah gaya bahasa yang mengulang kata demi kata, entah itu yang diulang pada bagian depan, tengah, atau akhir sebuah kalimat. Gaya bahasa perulangan meliputi: aliterasi, anafora, anadiplosis, mesodiplosis, epanolipsis, epizeuksis.
I.                    Aliterasi
Harun Daud (1998: 3) secara lengkap memberikan definisi aliterasi merupakan pengulangan bunyi konsonan awal yang sama atau bunyi vokal yang berturut-turut atau pengulangan perkataan atau suku kata yang berhampiran. Gorys Keraf (2002: 138) menyatakan bahwa aliterasi adalah gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama (Kusumawati, 2010:18).  Dari kedua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa aliterasi adalah gaya bahasa yang mngungkapkan suatu hal dengan perulangan bunyi vokal atau konsonan pada awal kata dalam satu kalimat. Contohnya inikah indahnya impian.
II.                  Anafora
Harun Daud (1998: 3) menyatakan anafora ialah pengucapan (perkataan atau perkataan-perkataan) yang sama diulang-ulang pada permulaan dua kata atau lebih baris, ayat atau ungkapan. Sementara itu Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 28) berpendapat bahwa anafora adalah gaya bahasa yang berwujud perulangan kata pertama dari kalimat pertama menjadi kata pertama dalam kalimat berikutnya (Kusumawati, 2010:19).
Dari kedua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa anafora adalah gaya bahasa yang mengulangi kata-kata yang sama pada awal kalimat, dalam satu paragraf. Contohnya Bahasa yang baku pertama-pertama berperan sebagai pemersatu dalam pembentukan suatu masyarakat bahasa yang bermacam-macam dialeknya. Bahasa yang baku akan mengurangi perbedaan variasi dialek Indonesia secara geografis, yang tumbuh bawah sadar pamakai bahasa Indonesia, yang bahasa pertamanya suatu bahasa Nusantara. Bahasa yang baku itu akan mengakibatkan selingan bentuk yang sekecil-kecilnya.
III.               Epanolepsis
Gorys Keraf (2002: 128) yang dimaksud epanolepsis adalah pengulangan yang berwujud kata terakhir dari baris, klausa atau kalimat, mengulang kalimat pertama. Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 30) berpendapat bahwa epanolepsis adalah gaya bahasa repetisi kata terakhir pada akhir kalimat atau klausa (Kusumawati, 2010:19).
Dari kedua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa epanolepsis adalah gaya bahasa yang mngulang kata diawal kalimat atau klausa pada akhir kalimat atau klausa. Contohnya kita gunakan pikiran dan perasaan kita.
IV.               Anadiplosisi
Gorys Keraf (2002: 128) anadiplosis adalah kata atau frasa terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dari klausa atau kalimat berikutnya. Sementara itu Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 28) berpendapat bahwa anadiplosis adalah gaya bahasa yang selalu mengulang kata terakhir atau frasa terakhir dalam suatu kalimat atau frasa pertama dari klausa dalam kalimat berikutnya (Kusumawati, 2010:20). Dari kedua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa anadiplosis adalah gaya bahasa yang mengulang kata terakhir dalam suatu kalimat atau kausa menjadi kata pertama pada klausa atau alimat berikutnya. Contohnya dalam laut ada tiram, dalam tiram ada mutiara.
V.                  Mesodiplosis
Gorys Keraf (2002: 128) mesodiplosis adalah perulangan di tengah-tengah baris atau beberapa kalimat berurutan. Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 29) berpendapat bahwa mesodiplosis adalah gaya bahasa yang menggunakan pengulangan di tengah-tengah baris atau kalimat secara berurutan (Kusumawati, 2010:20). Dari kedua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa mesodiplosis adalah gaya bahasa yang mngulangi kata-kata yang terdapat di tengah-tengah frase atau kalimat kemudian diulang kembali pada bagian tengah kalimat atau klausa berikutnya.  Contohnya pegawai kecil jangan mencuri kertas karbon, para pembesar jangan mencuri bensin.
VI.               Epizeuksis
Gorys Keraf (2002: 127) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan epizeuksis adalah repetisi yang bersifat langsung, artinya kata-kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut. Sejalan dengan pendapat ini Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 30) berpendapat bahwa epizeuksis adalah gaya bahasa repetisi yang bersifat langsung dari kata-kata yang dipentingkan dan diulang beberapa kali sebagai penegasan (Kusumawati, 2010:20). Dari kedua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa epizeuksis adalh gaya bahasa yang mngulang kata-kata yang dianggap sebagai inti dari pembicaraan atau yang dianggap penting. Contohnya kita harus belajar, belajar, dan belajar agar tidak ketinggalan zaman.
d.      Gaya bahasa sindiran
Meliputi: sinisme, innuendo, sarkasme, satire, dan antifrasis.
I.                    Sinisme
Gorys Keraf (2002: 143) berpendapat bahwa sinisme adalah gaya bahasa sebagai suatu sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Sementara itu menurut Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 27) berpendapat bahwa sinisme adalah gaya bahasa sindiran yang cara pengungkapannya lebih kasar (Kusumawati, 2010:21).  Dari kedua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa sinisme adalah gaya bahasa yang berupa sindiran yang sangat kasar. Contohnya terima kasih telah membantu membereskan barang-barang ini (padahal orang yang diajak bicara telah membuat berantakan).
II.                  Innuendo
Gorys Keraf (2002: 144) berpendapat bahwa innuendo adalah semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Kemudian menurut pendapat Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 27) innuendo adalah gaya bahasa sindiran yang mengecilkan maksud yang sebenarnya (Kusumawati, 2010:21).
Dari kedua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa innuendo adalah gaya bahasa yang mengungkapkan suatu hal yang besar tetapi dikecil-kecilkan. Contohnya ia menjadi kaya raya karena sedikit mengadakan komersialisasi terhadap jabatannya (padahal komersialisasi dilakukan secara besar-besaran).
III.               Sarkasme
Yandianto (2004: 148) menyatakan sarkasme adalah gaya bahasa yang tidak lagi merupakan sindiran, tetapi lebih berbentuk luapan emosi orang yang sedang marah, oleh karena itu kata yang dipergunakan biasanya kasar dan tak terdengar tidak sopan. Sedangkan Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 27) berpendapat sarkasme adalah gaya bahasa yang sindirannya paling kasar dalam penggunaannya (Kusumawati, 2010:22).
Dari kedua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa sarkasme adlah gaya bahasa yang merupakan ungkapan emosi dan biasanya kata-kata yang digunakan sangat kasar. Contohnya kelakuannya memuakkan saya.
IV.               Satire
Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 28) berpendapat bahwa satire adalah gaya bahasa yang berbentuk penolakan dan mengandung kritikan dengan maksud agar sesuatu yang salah itu dicari kebenarannya. Sementara itu, menurut Gorys Keraf (2002: 144) satire adalah ungkapan yang menertawakan sesuatu (Kusumawati, 2010:22).
Dari kedua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa satire adalah gaya bahasa yang mengungkapkan sindiran tidak secara langsung.  Contohnya jawaban anda tidak salah, namun kurang tepat.
V.                  Antifrasis
Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 28) berpendapat bahwa antifrasis adalah gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata yang bermakna kebalikannya dan bernada ironis. Sementara itu, Gorys Keraf (2002: 144) menjelaskan bahwa antifrasis adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya, yang bisa saja dianggap ironi sendiri, atau kata-kata yang dipakai menangkal kejahatan, roh jahat, dan sebagainya (Kusumawati, 2010:22). Dari kedua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa antifrasis adalah gaya bahasa yang mengungkapkan suatu hal dengan ungkapan yang sama sekali adalah kebalikan dari hal tersebut. Contohnya lihatlah si raksasa telah tiba (maksudnya si cebol).
e.       Gaya bahasa penegasan
Gaya bahasa penegasan adalah gaya bahasa yang mengulang kata-katanya dalam satu baris kalimat. Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 22) membagi gaya bahasa penegasan menjadi dua, yaitu: repetisi dan paralelisme.
I.                    Repetisi
Gorys Keraf (2002: 127) berpendapat bahwa repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Masih dalam pengertian yang sama Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 22) repetisi adalah gaya bahasa penegasan yang mengulang-ulang suatu kata secara berturut-turut dalam suatu kalimat atau wacana (Kusumawati, 2010:25).
Dari kedua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa repetisi adalah gaya bahasa yang mengulang suatu kata tertentu untuk mempberikan penegasan bahwa hal tersebut sangat penting. Contohnya Maukah kau pergi bersama serangga-serangga tanah, pergi bersama kecoak-kecoak, pergi bersama mereka yang menyusupi tanah, menyusupi alam?.
II.                  Pararelisme
Gorys Keraf (2002: 127) berpendapat bahwa paralelisme adalah semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Sementara itu, Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2004: 22-23) paralelisme adalah gaya bahasa pengulangan seperti repetisi yang khusus terdapat dalam puisi, terdiri dari anafora (pengulangan pada awal kalimat) dan epidofora (pengulangan pada akhir kalimat). (Kusumawati, 2010:26). Dari kedua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa paralelisme adalah gaya bahasa yang mengulang kata atau yang menduduki fungsi gramatikal yang sama untuk mencapai suatu kesejajaran.  Contohnya Sangat ironis kedengaran bahwa ia menderita kelaparan dalam sebuah daerah yang subur dan kaya serta mati terbubuh dalam sebuah negeri yang sudah ratusan hidup dalam ketentraman dan kedamaian.

B.      Iklan
1)     Pengertian iklan
Menurut Rhenald Kasali (1992) iklan adalah bagian dari bauran promosi dan bauran promosi adalah bagian dari  bauran pemasaran. Jadi secara sederhana  iklan didefinisikan sebagai pesan yang menawarkan  suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat  lewat suatu media. Sedangkan menurut Frank Jefkins (1997)  iklan adalah pesan yang diarahkan untuk membujuk orang untuk membeli.  Definisi standar dari periklanan  biasanya mengandung enam elemen :

a.       Periklanan adalah bentuk komunikasi yang dibayar, walaupun beberapa bentuk periklanan seperti iklan layanan masyarakat, biasanya menggunakan ruang khusus yang gratis.
b.      Selain pesan yang harus disampaikan harus dibayar, dalam iklan juga terjadi proses identifikasi sponsor.
c.       Iklan bukan hanya menampilkan pesan mengenai kehebatan produk yang ditawarkan, tapi juga sekaligus menyampaikan pesan agar konsumen sadar mengenai perusahaan yang memproduksi produk yang ditawarkan.
d.      Upaya membujuk dan mempengaruhi konsumen.
e.       Periklanan memerlukan elemen media massa sebagai media penyampai pesan  kepada audiens sasaran.
f.        Periklanan mempunyai sifat bukan pribadi. Periklanan adalah audiens. Dalam iklan harus jelas ditentukan kelompok konsumen yang jadi sasaran pesan. (dikutip dari sarjanaku.com)
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa iklan adalah suatu pernyataan yang bertujuan untuk menawarkan suatu produk kepada masyarakat, dan berusaha untuk memengaruhi masyarakat agar mendukung  bahkan membeli produk yang diiklankan.
2)     Jenis-jenis iklan
Menurut Frank Jefkins (1997;39)dalam bukunya “Periklanan” (dikutip dari Anumaruni, 9-5-2010), memaparkan tujuh jenis iklan yaitu :
a.       Iklan Konsumen
Iklan Konsumen ini mencakup tentang beberapa macam barang yang dikonsumsi atau digunakan oleh para masyarakat, seperti :
o   Barang Konsumen, seperti bahan makanan. Shamoo, sabun, dan sebagainya.
o   Barang tahan lama, seperti bangunan tempat tinggal, mobil, perhiasan dan sebagainya.
o   Jasa Konsumen, seperti pelayanan untuk keamanan dan kesejateraan seperti Bank, Asuransi, Investasi, dan sebagainya.
Jadi  iklan konsumen adalah iklan yang memuat produk-produk konsumsi masyarakat. Contohnya iklan detergen, iklan makanan, iklan produk kecantikan, dan lain-lain.
b.      Iklan Antar Bisnis
Kegunaan iklan antar bisnis adalah mempromosikan barang-barang dan jasa non-konsumen, artinya baik pemasang maupun sasaran iklan sama-sama perusahaan. Produk yang diiklankan adalah barang antara yang harus diolah menjadi unsur-unsur produksi. Termasuk disini adalah barang antara yang harus diolah atau menjadi unsur-unsur produksi. Termasuk disini adalah pengiklanan bahan-bahan mentah, komponen, suku cadang, dan aksesoris-aksesoris, fasilitas pabrik dan mesin, serta jasa-jasa seperti Asuransi, pasokan alat tulis kantor dan lain-lain.
Jadi  iklan antar bisnis adalah iklan yang memuat bahan-bahan dan fasilitas yang dapat digunakan dalam berbisnis. Contoh iklan perbankan, iklan penjualan barang secara on line, dan lain-lain.
c.       Iklan Perdagangan
Kegunaan iklan perdagangan adalah memberikan informasi kepada para pedagang atau saudagar tentang barang-barang yang tersedia untuk dijual kembali, apakah dengan mengingatkan mereka pada merek-merek yang terkenal, memperkenalkan barang-barang baru atau tak jarang mengumumkan hal-hal khusus untuk membantu para pengecer menjajakan barang-barang tersebut, misalkan potongan harga, pengemasan baru, rencana-rencana kampanye iklan konsumen atau promosi penjualan.
Jadi iklan perdagangan adalah iklan yang memuat tentang perdagangan. Contohnya iklan toko bagus di jaringan internet, iklan ini memberikan metode tentang bagaimana masyarakat dapat dengan mudah menjual ataupun membeli barang-barang bekas yang masih layak pakai.
d.      Iklan Eceran
Kegunaan iklan eceran adalah sebagai berikut:
o   Mempopulerkan perusahaan, memikat para konsumen dengan janji-janji tertentu, dan berkenaan dengan toko atau para pengecer
o   Menjual barang-barang yang eksklusif bagi toko tertentu
o   Untuk menjual stok atau toko, bisa juga mempromosikan barang-barang yang musiman sifatnya, untuk menampilkan pola pemilihan poduk yang cermat, atau mengumumkan penawaran khusus.
Jadi iklan eceran adalah iklan yang memuat tentang barang-barang eceran, berkenaan dengan toko atau para pengecer. Contohnya iklan-iklan yang dilancarkan oleh pasar swalayan atau pun toko-toko serba ada berukuran besar.
e.       Iklan Bersama
Sebuah dukungan iklan yang diberikan oleh pihak perusahaan atau pabrik kepada para pengecer produk-produknya juga lazim disebut dengan istilah “kerja sama iklan secara vertical”. Kerja sama iklan merupakan sisi penting dan iklan eceran dan bentuknya sendiri macam-macam misalnya, pemakaian logo, pembiayaan bersama, pemasokan art-work, semua biaya ditanggung pemasok dan daftar distribusi.
Jadi iklan bersama adalah iklan kerja sama antara produsen dan para pengecer produk dari produsen. Contohnya iklan yang dipasang pada banner di warung-warung klontongan.
f.        Iklan Keuangan
Tujuan iklan keuangan biasanya adalah untuk menghimpun dana pinjaman atau menawarkan modal, baik dalam bentuk asuransi, penjualan saham, surat obligasi, surat hutang atau dana pension. Namun bisa juga iklan tersebut hanya berupa pengumuman atau laporan keuangan dari suatu perusahaan kepada public, yang salah satu tujuannya, tentu saja untuk menunjukkan betapa solidnya keuangan yang bersangkutan.
Jadi iklan keuangan adalah iklan yang bergerak di bidang keuangan ataupun permodalan. Contohnya iklan perbankan.
g.       Iklan Rekruitment
Iklan jenis ini bertujuan merekrut calon pegawai (seperti anggota polisi, angkatan bersenjata, perusahaan swasta, dan badan-badan umum lainnya). Dan bentuknya antara lain iklan kolom yang menjanjikan kerahasian pelamar (classified) atau iklan selebaran biasa.
Jadi iklan rekruitmen adalah iklan tentang perekrutan tenaga kerja. Contoh iklan lowongan pekerjaan di koran.
3)     Tujuan iklan
Renald Kasali (1995: 159), memaparkan tujuan iklan sebagai berikut :
a.       Aspek perilaku, yakni tindakan-tindakan yang diharapkan pada calon pembeli seperti: pembelian percobaan, mengunjungi toko, mengambil percontoh, atau meminta info lebih lanjut.
b.      Sikap yang diharapkan. Hal ini menyangkut sikap atau keistimewaan produk.
c.       Kesadaran. Dalam pengembangan produk-produk baru di pasaran, merebut calon pembeli adalah tugas utama periklanan.
d.      Posisioning, membentuk citra agar bisa diterima secara homogen. (Kusumawati, 2010:28)

Sedangkan menurut Philip (dalam Darmadi, 2003: 9), tujuan periklanan dapat dilihat dari sudut pandang perusahaan. Tujuan periklanan ini berkaitan dengan sasarannya sebagai berikut :
a.       Iklan bertujuan untuk memberikan informasi (informative) kepada khalayak tentang seluk beluk suatu produk.
b.      Iklan digunakan untuk membujuk (persuasive), dilakukan dalam tahap kompetitif. Dalam hal ini, perusahaan melakukan persuasi tidak langsung dengan memberikan informasi tentang kelebihan produk yang dikemas sedemikian rupa sehingga menimbulkan perasaan menyenangkan yang akan mengubah pikiran orang untuk melakukan tindakan pembelian.
c.       Iklan bertujuan untuk mengingatkan (reminding), yaitu untuk menyegarkan informasi yang pernah diterima masyarakat. Iklan jenis ini bertujuan untuk meyakinkan pembeli sekarang bahwa mereka melakukan pilihan benar. (Kusumawati, 2010:29)
Jadi tujuan iklan secara umum adalah memengaruhi konsumen secara terus-menerus agar konsumen ingat dengan produk yang diiklankan untuk kemudian tertarik untuk mendukung bahkan membeli produk yang diiklankan.
4)     Manfaat iklan
Renald Kasali (1995: 16) mengemukakan manfaat iklan bagi pembangunan msyarakat dan ekonomi, sebagai berikut.
a.       Iklan memperluas alternatif bagi konsumen. Dengan adanya iklan, konsumen dapat mengetahui adanya berbagai produk, yang pada gilirannya menimbulkan adanya pilihan.
b.      Iklan membantu produsen untuk menimbulkan kepercayaan bagi konsumennya.
c.       Iklan membuat orang kenal, ingat, dan percaya. (Kusumawati, 2010:29)
Jadi manfaat iklan adalah untuk menambahluaskan wawasan masyarakat mengenai produk-produk terbaru, beserta kualitasnya, dan dapat memberikan alternatif pilihan kepada konsumen atau masyarakat.


6.     Penelitian terdahulu mengenai pemakaian gaya bahasa dalam iklan di media massa.
a.       Kusumawati (2010) dengan judul  ANALISIS PEMAKAIAN GAYA BAHASA PADA IKLAN PRODUK KECANTIKAN PERAWATAN KULIT WAJAH DI TELEVISI”. Dari hasil penelitiannya tersebut diperoleh kesimpulan bahwa gaya bahasa yang digunakan dalam iklan produk kecantikan perawatan kulit wajah di televisi meliputi gaya bahasa : a) personifikasi, b) pertanyaan retoris, c) mesodiplosis, d) anafora, e) klimaks, f) koreksio, g) aliterasi, h) asindenton, i) efistrofa, j) antiklimaks, k) repetisi, l) asonansi, m) anadiplosis, dan n) erotesis. Gaya bahasa yang paling banyak digunakan dalam penayangan iklan tersebut adalah gaya bahasa anafora. Anafora adalah repetisi yang berwujud perulangan kata pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya. Penggunaan gaya bahasa anafora bermaksud menekankan produk yang ditawarkan sehingga dapat memudahkan masyarakat untuk mengingatnya, hingga akhirnya membeli produk tersebut.

b.      Indriani Triandjojo (2008) dengan judul “SEMIOTIKA IKLAN MOBIL DI MEDIA CETAK INDONESIA” dari hasil penelitiannya diperoleh kesimpulan bahwa dalam iklan mobil di harian Suara Merdeka yang terbit bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2007, ditemukan juga pemakaian retorikayang dibuat oleh pengiklan dengan tujuan menarik perhatian khalayak agarmereka terbujuk dan menuruti sarannya. Jenis-jenis retorika meliputi rima,aliterasi, anafora, epistrope, anadiposis, parison, antitesis, hiperbola,pertanyaan retorika, metonimi, metafora, homonimi, atanaklasis, paradoksdan ironi. Dari penelitian ditemukan bahwa sebagian besar dari bentukretorika adalah gaya pengulangan. Gaya pengulangan ini tampil dengan bentuk yang berbeda-beda, yaitu bentuk gaya rima, aliterasi, anafora,epistrope, anadiposis, parison dan atanaklasis. Bentuk-bentuk gaya inidipakai untuk memberi penekanan dan menarik perhatian dari konsumen.Bentuk yang paling banyak dipakai adalah bentuk rima, bentuk ini adalahbentuk yang mengulang suku terakhir dari kata, bentuk yang menyerupaipantun ini merupakan bentuk kesenian tradisional di Indonesia, dengandemikian masyarakat akrab dengan bentuk ini dan dengan mudah akan mengingatnya. Bentuk ini dipakai oleh produsen agar pembaca tertarik,mengingat, terbujuk dan akhirnya menuruti sarannya yaitu membeli produk yang ditawarkan.

7.     Metodologi dan metode penelitian
a.       Metode penelitian
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian secara deskriptif (metode deskriptif kualitatif) untuk menganalisis masalah secara lebih detail. Sebab metode penelitian ini mencoba menggambarkan fenomena yang akan diteliti secara mendalam.
b.      Objek penelitian
Sesuai dengan tujuan dari penelitian yang akan dilakukan, maka objek penelitian ini adalah gaya bahasa dalam iklan di media massa cetak. Iklan yang dimaksud adalah iklan perbankan dan media cetak yang dimaksud adalah koran Kompas.
c.       Teknik Sampling
Sampel merupakan sebagian dari populasi yang dijadikan objek penelitian (D. Edi Subroto, 1992: 32). Adapun pengambilan sampel dalam penelitian ini, dilakukan dengan sampel bertujuan (purposive sampling). Menurut Martono (2010:19), purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Sampel yang diambil merupakan iklan yang terpilih dan dianggap dapat mewakili guna menganalisis pemakaian gaya bahasa pada iklan. Iklan yang dijadikan sampel adalah iklan-iklan perbankan, sedangkan media massa cetak yang dijadikan sampel adalah koran Kompas. Alasannya iklan perbankan merupakan iklan yang hampir disetiap media massa cetak terutama koran selalu dimuat, peneliti hendak menganalisis gaya-gaya bahasa yang termuat di iklan-iklan tersebut, kemudian mengapa harian kompas?, karena harian Kompas telah dua kali berturut-turut meraih peringkat pertama untuk “Penghargaan Penggunaan Bahasa Indonesia di Media Massa Cetak Tingkat Nasional”, yaitu tahun 2011 dan 2012, sedangkan peneliti hendak meneliti pemanfaatan atas kekayaan Bahasa Indonesia dalam pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu.